Diskusi Buku "Mengenal Gerson Mengenang Umbu" di D'ART Cafe & Galley Sikumana Kupang
Diskusi Buku “Mengenal Gerson Mengenang Umbu” di D’Art Cafe & Gallery, Kupang
Pada Senin malam, 1 Desember 2025 pukul 18.00 WITA, ruang kreatif D'Art Cafe & Gallery di Sikumana, Kota Kupang, menjadi saksi bisu sebuah pertemuan literasi yang sarat makna — diskusi buku Mengenal Gerson Mengenang Umbu karya Robertus Fahik. Acara ini menyatukan para pencinta sastra, intelektual, mahasiswa, serta komunitas lokal, dalam suasana hangat penuh antusiasme.
Mengenal Buku — “Mengenal Gerson Mengenang Umbu”
Buku “Mengenal Gerson Mengenang Umbu” adalah kumpulan esai karya Robertus Fahik yang terbit tahun 2025 oleh penerbit Jejak Pustaka. Buku ini berisi sekitar 10 esai yang membahas secara mendalam dua sosok sastrawan asal Nusa Tenggara Timur, yaitu Gerson Poyk (1931–2017) dan Umbu Landu Paranggi (1943–2021).
Menurut sang penulis, buku ini bukan sekadar ekspresi kekaguman, melainkan “testimoni ilmiah” atas perjalanan intelektual melalui karya-karya Gerson dan Umbu — upaya menghormati pemikiran, estetika, dan warisan budaya mereka. Dalam kata-kata penulis: karya mereka menjadi semacam “kemenyan” yang mengingatkan kita pada kesungguhan berkarya dan keindahan menerima hidup, meski masa telah berlalu.
Suasana Acara — Pertemuan Sastra di Kupang
Malam itu, suasana D’Art Cafe terasa khidmat namun hangat. Pengunjung datang dari berbagai kalangan: mahasiswa, pecinta sastra, akademisi, bahkan komunitas seni setempat. Kursi-kursi besi, lampu temaram, dan deretan buku di rak — semuanya mendukung suasana reflektif.
Robertus Fahik memandu diskusi dengan rendah hati namun penuh kehangatan. Ia membuka dengan mengenalkan latar belakang penulisan buku serta motivasinya untuk “mengenal lebih dekat dua sastrawan besar dari NTT.” Para peserta kemudian diajak berdialog — membahas esai-esai, makna dari cerita-cerita dan puisi, serta relevansi karya Gerson dan Umbu di zaman sekarang.
Beberapa peserta berbagi pengalaman pribadi terhadap karya para sastrawan itu — bagaimana puisi atau cerpen mereka memberi pandangan baru tentang hidup, identitas, dan keberanian berekspresi. Tidak sedikit yang merasa “terhubung” kembali dengan akar budaya NTT.
Diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Selain berbicara tentang karya, banyak yang mengulik aspek sejarah — perjalanan hidup Gerson Poyk, kontribusinya pada sastra Indonesia, serta peran Umbu Landu Paranggi sebagai mentor bagi generasi penyair baru.
Relevansi — Menghidupkan Ulang Warisan Sastra Timur
Acara ini lebih dari sekadar peluncuran atau diskusi buku. Ia menjadi wujud nyata dari upaya menghidupkan ingatan kolektif terhadap sastrawan-sastrawan besar dari NTT. Bagi generasi muda di Kupang — terutama mereka yang jarang mengenal karya Gerson atau Umbu — momen seperti ini penting: membuka jalan untuk apresiasi terhadap literasi lokal dan nasional.
Buku “Mengenal Gerson Mengenang Umbu” dengan esainya membawa pesan kuat: karya sastra bukan hanya untuk dibaca, tapi untuk direnungkan — sebagai jembatan antara masa lampau dan masa kini, antara identitas lokal dan kesadaran nasional.
Kafe dan galeri seperti D’Art membuktikan bahwa ruang publik kreatif sangat diperlukan. Di tengah kesibukan harian, ruang semacam ini memberi kesempatan untuk berhenti, membaca, berdialog — dan mengisi kembali inspirasi.
Penutup
Diskusi buku di D’Art Cafe & Gallery pada 1 Desember 2025 adalah ajang literasi yang penuh makna. Melalui “Mengenal Gerson Mengenang Umbu,” Robertus Fahik mempertemukan kembali publik dengan dua sastrawan besar: Gerson Poyk dan Umbu Landu Paranggi.
Semoga acara seperti ini terus berlangsung — agar warisan sastra dan budaya Nusa Tenggara Timur tetap hidup, dihormati, dan diwariskan ke generasi mendatang. Dan mudah-mudahan, D’Art tetap menjadi rumah bagi ide, kreativitas, serta dialog-dialog penting di Kota Kupang.


Komentar
Posting Komentar